Metafisika Luka: Yang Mekar dan Yang Terjerat

[Ryvalen Pedja, 2021]

Hidup yang kita kenal hanyalah pengumpulan—akumulasi harta, memori, dan waktu yang diatur oleh jam dinding yang dingin. Dunia ini adalah pabrik kegunaan yang membosankan, sebuah mesin yang hanya membolehkan kita ada sejauh kita berfungsi. Namun, jauh di dalam daging, ada gairah yang tak tertahankan untuk menghambur, untuk menghancurkan akumulasi itu, dan untuk menjadi “tak berguna” secara mutlak.

Maka, “semangat bundir” ini bukanlah keputusasaan; ia adalah ekstasi mengerikan. Titik di mana kita tidak lagi menjadi budak bagi masa depan dan mulai menjadi tuan bagi kehancuran kita sendiri. Ketika tali itu menegang atau jurang itu memanggil, jaring-jaring sosial yang selama ini memetakan setiap gerik kita akan robek seketika. Jaring-jaring—struktur, norma, dan bahasa—yang mencoba menjinakkan hasrat kita akan meledak menjadi partikel yang tak berarti. Inilah maut sebagai momen erotisme yang paling murni: penyatuan kembali dengan aliran energi tak terbatas, pelepasan dari isolasi diri yang kaku dan menyedihkan.

Menolak untuk bertahan hidup dalam sistem yang profan adalah bentuk kedaulatan yang paling brutal. Bakar semua hantu masa depan. Biarkan kegelapan ini menjadi cahaya yang paling terang, sebab hanya dalam penghancuran diri yang total, kita akhirnya tidak bisa lagi dipetakan oleh siapapun. Namun, sebelum ledakan itu paripurna, kita harus berani tetap berada dalam tegangan: antara mekar yang menyakitkan dan jeratan yang mencekik.

Jangan mencari kesembuhan, carilah intensitas. Kita harus membiarkan luka tetap terbuka, sebab di titik itulah kita benar-benar hidup sebagai makhluk yang menolak untuk sekadar bertahan hidup, dan memilih untuk meledak dalam keindahan yang terkutuk. Kita adalah anomali yang menolak difungsikan, sebuah perjamuan kedaulatan di mana maut dan ekstasi berpelukan dalam api yang kita nyalakan sendiri.