Bandung sore itu tidak sedang turun hujan, melainkan sedang tenggeram dalam kegagalan tata kotanya sendiri. Di sudut sebuah gedung tua yang tampak seperti sisa-sisa peradaban yang lupa dihancurkan, seorang pria berdiri mematung. Ia menengadah ke langit hijau sembari memegang sebatang rokok di sela jarinya, aku dapat melihat kabut di sekelilingnya; seperti awan hitam yang menggantung di langit tepat sebelum hujan badai melanda kota ini.
Hujan akhirnya jatuh, membabi buta, meluap dari selokan-selokan yang mampet oleh janji-janji perbaikan yang menumpuk menjadi sampah. Pria itu tetap di sana, memelihara sebuah paradoks: menunggu seraya mengutuk sekaligus mencintai segala yang telah terjadi. Ia telah menjadi bagian dari dekorasi kota yang busuk ini—sebuah monumen kesepian di tengah kegagalan perencanaan wilayah.
Aku memperhatikannya dari kejauhan di sela-sela kabel telepon yang menjuntai semrawut seperti usus yang terburai. Aku melemparkan senyum, dan ia membalasnya. Namun, itu bukan senyum; itu hanyalah kontraksi otot wajah yang letih, sebuah formalitas birokrasi yang dilakukan oleh watga yang sudah terlalu lama diabaikan oleh sistem. Tatapan matanya adalah lubang hitam; ada kekacauan yang sangat tertib di sana, sebanding dengan tata kota yang dirancang tanpa sedikit pun rasa kasih sayang.
Aku melangkah maju, berniat memecah keheningannya. Namun, ia segera menunduk dan menoleh ke arah lain, melanjutkan lamunannya. Penolakannya begitu dingin, seolah ia sedang mempertahankan satu-satunya ruang privat yang tersisa di kota yang semakin sesak oleh beton tanpa. Seolah ingin menikmati kesendiriannya sebelum seluruh ruang publik itu benar-benar habis di jual.
Dan, tepat saat bahu kami seharusnya bersinggungan, ia lenyap. Ruangan itu mendadak sunyi secara absolut. Aku menoleh ke arah kaca besar di dinding gedung tua yang lembap itu. Di sana, di balik permukaan perak yang mulai mengelupas karena korupsi waktu, aku melihat diriku sendiri.
Pria itu tidak pernah ada. Ia hanyalah sebuah proyeksi dari kejenuhanku terhadap kota dan harapan-harapan yang kumajukan sendirian. Dulu, aku merasa sanggup menanggung semuanya; aku adalah pusat dari semestaku sendiri, aku adalah segala-galanya. Namun, saat melihat pantulan itu, aku sadar bahwa sekarang segalanya mulai berkabut. Aku adalah warga yang terjebak dalam tata kota yang dirancang bukan untuk manusia, melainkan untuk melanggengkan kebingungan dan memelihara penantian tanpa akhir.