Aku adalah Segala-galanya, tapi Sekarang Segalanya Mulai Berkabut

Bandung sore itu tidak sedang turun hujan, melainkan sedang tenggeram dalam kegagalan tata kotanya sendiri. Di sudut sebuah gedung tua yang tampak seperti sisa-sisa peradaban yang lupa dihancurkan, seorang pria berdiri mematung. Ia menengadah ke langit hijau sembari memegang sebatang rokok di sela jarinya, aku dapat melihat kabut di sekelilingnya; seperti awan hitam yang menggantung di langit tepat sebelum hujan badai melanda kota ini.

Hujan akhirnya jatuh, membabi buta, meluap dari selokan-selokan yang mampet oleh janji-janji perbaikan yang menumpuk menjadi sampah. Pria itu tetap di sana, memelihara sebuah paradoks: menunggu seraya mengutuk sekaligus mencintai segala yang telah terjadi. Ia telah menjadi bagian dari dekorasi kota yang busuk ini—sebuah monumen kesepian di tengah kegagalan perencanaan wilayah.

Aku memperhatikannya dari kejauhan di sela-sela kabel telepon yang menjuntai semrawut seperti usus yang terburai. Aku melemparkan senyum, dan ia membalasnya. Namun, itu bukan senyum; itu hanyalah kontraksi otot wajah yang letih, sebuah formalitas birokrasi yang dilakukan oleh watga yang sudah terlalu lama diabaikan oleh sistem. Tatapan matanya adalah lubang hitam; ada kekacauan yang sangat tertib di sana, sebanding dengan tata kota yang dirancang tanpa sedikit pun rasa kasih sayang.

Aku melangkah maju, berniat memecah keheningannya. Namun, ia segera menunduk dan menoleh ke arah lain, melanjutkan lamunannya. Penolakannya begitu dingin, seolah ia sedang mempertahankan satu-satunya ruang privat yang tersisa di kota yang semakin sesak oleh beton tanpa. Seolah ingin menikmati kesendiriannya sebelum seluruh ruang publik itu benar-benar habis di jual.

Saat hujan mulai melandai, aku memutuskan untuk pergi. Aku meraih jaketku, dan secara sinkron, ia pun bergerak—mungkin kembali ke kotak sempit yang ia sebut rumah di labirin pemukiman. Ia berjalan melewatiku. Tidak ada aroma rokok, tidak ada bunyi langkah kaki di atas ubin yang pecah.

Dan, tepat saat bahu kami seharusnya bersinggungan, ia lenyap. Ruangan itu mendadak sunyi secara absolut. Aku menoleh ke arah kaca besar di dinding gedung tua yang lembap itu. Di sana, di balik permukaan perak yang mulai mengelupas karena korupsi waktu, aku melihat diriku sendiri.

Pria itu tidak pernah ada. Ia hanyalah sebuah proyeksi dari kejenuhanku terhadap kota dan harapan-harapan yang kumajukan sendirian. Dulu, aku merasa sanggup menanggung semuanya; aku adalah pusat dari semestaku sendiri, aku adalah segala-galanya. Namun, saat melihat pantulan itu, aku sadar bahwa sekarang segalanya mulai berkabut. Aku adalah warga yang terjebak dalam tata kota yang dirancang bukan untuk manusia, melainkan untuk melanggengkan kebingungan dan memelihara penantian tanpa akhir.

Happy ̶B̶i̶r̶t̶h̶ Obituary Day

It’s not my birthday anymore
There’s no need to be kind to me
And the will to see you smile and belong has now gone
It’s not my birthday anymore…

Pengulangan tahun bagiku tidak terlalu penting untuk digembar-gemborkan, lagi pula, itu hanya pengingat atas bertambahnya umur dan berkurangya waktuku untuk berada di dunia ini. Dan, cukup aku saja yang merayakan itu.

Tahun ini aku merayakan pengulangan tahun dengan membuka diri dan mempersilahkan setiap penderitaan datang membuka halaman baru dalam rumitnya kehidupan lalu membiarkan diri ini tumbuh di dalam indahnya kehancuran. Di sini, aku adalah arsitek bagi kehidupanku paska kehancuran. Karena bagiku, aku sendirilah yang akan membuat jalan dan membangun bentuk dari setiap jejak yang akan menjadi tanda di atas dunia dan memberi makna pada kehidupan.

21 tahun berlalu, Kabar demi kabar yang dibawakan juga ingatan bahwa dunia akan selalu muram merupakan hal-hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupanku. Selayaknya doa dihadapan pengulangan tahun, aku berharap bahwa teruslah hidup lebih lama lagi seperti api yang tetap menyala meski redup setengah mati. وَا لْعَصْرِ

 


Lagu yang menemaniku saat menulis ini:

  • Tiga Pagi – Happy Birthday
  • Morrissey – It’s Not Your Birthday Anymore
  • Morrissey – A sleep
  • Pearl Jam – Black
  • Pearl Jam – All or None
  • Saturnus – All Alone
  • Anathema – Untouchable (Part I, II)