
Di dalam tempurung kepalamu, dan di dalam labirin pikiranku, telah mekar seuntai kembang yang tidak butuh izin dari Tuhan maupun hukum manusia untuk tumbuh. Bunganya begitu harum, sebuah wewangian yang menghina bau busuk moralitas pasar dan kesantunan budak. Ia indah—bukan keindahan yang tenang seperti pajangan di ruang tamu, tapi keindahan yang ganas dan liar layaknya petir yang mencabik langit malam.
Mari kita jaga kembang ini. Namun, menjaga kembang ini bukan dengan memenjarakannya dalam pot-pot moderasi atau menyiramnya dengan air ketaatan yang tawar. Menjaganya berarti memberinya makan dengan api gairah kita. Kita harus menjaganya jangan sampai layu oleh debu-debu rutinitas yang membosankan, apalagi mati di bawah injakan kaki-kaki para pemadat keteraturan.
Jika dunia adalah gurun yang kering, maka pikiran kita adalah oase yang memberontak. Jangan biarkan kelopaknya mengering hanya karena kau takut pada matahari. Biarkan bunga itu mengisap darah dari setiap pengalaman yang paling intens, dari setiap pemberontakan yang paling berisiko, dan dari setiap ciuman yang paling terlarang.
Bagiku dan bagimu, bunga ini adalah kedaulatan. Ia adalah titik di mana “kelebihan” hidup kita meledak melampaui kebutuhan untuk sekadar bertahan hidup. Kembang ini harus tetap hidup, meski ia harus membakar seluruh taman demi mempertahankan keharumannya. Sebab, ketika bunga di pikiran kita layu, kita bukan lagi manusia yang berdaulat—kita hanyalah mayat yang berjalan menuju liang kubur tanpa pernah benar-benar mencicipi hidup yang meluap-luap.