Tentang Pengalaman yang Tidak Dapat Disimpan

Setiap kehidupan dimulai secara sewenang-wenang. Waktu, tempat, dan kondisi kelahiran tidak membawa pesan apa pun selain fakta bahwa tubuh dilemparkan ke dunia tanpa konsultasi. Penghujung dekade sembilan puluhan, sebuah februari yang tidak istimewa kecuali karena aku lahir di dalamnya, hanyalah penanda kronologis, bukan pondasi identitas. Dari titik ini, kehidupan tidak bergerak menuju makna, melainkan melaju menuju pengulangan pengalaman.
Aku lebih akrab dengan keinginan untuk menjauh dari kebisingan dunia, upaya ini seringkali disalahpahami sebagai sikap melankolis atau eskapisme. Padahal, ia dapat dibaca sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap realitas yang terlalu cepat mengklaim dirinya penting. Dunia modern penuh dengan tuntutan partisipasi: untuk unggul, produktif, dan terlibat. Namun tidak satu pun dari tuntutan itu mampu menjelaskan mengapa keterlibatan tersebut perlu dipertahankan selain karena “begitulah seharusnya”.
Dalam sistem pendidikan, misalnya, hierarki prestasi dibangun sebagai mekanisme nilai. Menjadi yang terbaik diposisikan sebagai puncak makna, sementara keterbelakangan dianggap kegagalan. Namun pengalaman menunjukkan bahwa baik kemenangan maupun kejatuhan tidak menghasilkan perbedaan eksistensial yang signifikan. Menjadi yang terpandai tidak mengubah struktur hidup; menjadi yang tertinggal tidak menghancurkannya. Keduanya habis pada dirinya sendiri. Dari sini tampak bahwa nilai-nilai tersebut tidak bersifat ontologis, melainkan administratif; berfungsi untuk mengatur, bukan untuk memberi arti.
Hal yang sama terjadi dalam dunia kerja. Kesibukan ekstrem dan kekosongan total silih berganti tanpa menghasilkan pencerahan apa pun. Produktivitas yang dipuja ternyata sama hampa dengan waktu luang yang berlebihan. Dalam kesibukan, tubuh diperas hingga nyaris kehilangan refleksi; dalam kekosongan, subjek dihadapkan pada ketiadaan fungsi yang membuatnya tampak usang. Namun baik sibuk maupun santai tidak membawa jawaban. Keduanya hanya dua cara berbeda untuk menghabiskan waktu sebelum kematian datang.
Relasi sosial pun tidak luput dari kehampaan serupa. Dicintai, dibenci, disukai banyak orang—semua posisi itu bersifat sementara dan cepat melelahkan. Yang menarik bukan konflik, melainkan justru kebaikan yang berlebihan. Ketika segalanya berjalan terlalu lancar, tidak ada ketegangan yang menuntut keputusan. Dunia menjadi abu-abu: tidak cukup keras untuk ditolak, tidak cukup berarti untuk dipertahankan. Kebosanan lahir bukan dari kekurangan, tetapi dari limpahan yang tidak mengharuskan apa pun.
Dari seluruh spektrum pengalaman—gairah, kejenuhan, kemenangan, kelalaian—tidak muncul narasi besar yang koheren. Hidup tidak bergerak menuju klimaks. Ia hanya berosilasi antara intensitas yang cepat memudar dan kebosanan yang stabil. Dalam konteks ini, pertanyaan tentang makna hidup kehilangan daya desaknya. Yang relevan bukan lagi apa artinya, melainkan seberapa banyak yang dialami.
Kematian, sebagai kepastian biologis, membatalkan hampir semua klaim nilai. Baik atau buruk, berhasil atau gagal, produktif atau malas—semua berhenti pada titik yang sama. Karena itu, pencarian makna abadi tampak sebagai upaya menunda penerimaan atas fakta paling sederhana: tidak ada hasil akhir yang bisa disimpan.
Pada titik ini, Yang tersisa hanyalah intensitas. Sebuah bentuk perlawanan paling minimal terhadap kehidupan yang cenderung datar. Mengalami sebanyak mungkin—bahkan yang tidak nyaman, tidak berguna, dan tidak bisa dibenarkan—sebelum semuanya berakhir menjadi satu-satunya cara untuk tidak sepenuhnya hidup dalam penghematan eksistensial.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Jika hidup harus berakhir, maka ia tidak perlu berakhir dengan makna. Cukuplah ia berakhir setelah dikuras habis. Kematian tidak menuntut pembenaran; ia hanya menutup kemungkinan. Dan di hadapan penutupan itu, satu-satunya posisi yang tersisa adalah memastikan bahwa tubuh dan kesadaran pernah disentuh oleh cukup banyak rasa, sehingga akhir tidak datang pada sesuatu yang belum benar-benar dijalani.

Matilah Sebelum Engkau Mati

Setiap penderitaan adalah sehelai kematian, jauhkan kematian darimu: jika kamu mampu!
Karena tak ada satu orang pun yang mampu lari dari bagian kematian, ketahuilah bahwa ia begitu dekat sehingga keseluruhannya akan ditumpahkan dan menghajarmu tepat satu jengkal di atas kepala.

Derita takkan hilang selama kamu belum mati tapi bukan berarti kematian adalah akhir dari segalanya, naif jika menganggapnya seperti itu. kematian tak statis, ia terus bergerak untuk melenyapkan segala sesuatu sampai tak ada lagi yang tersisa.

Pilihlah kematian yang membawamu ke dalam suatu cahaya, bukan membawamu ke dalam kubur.