
Meditasi adalah bentuk penghambaan yang paling halus. Ia memaksamu berlutut di depan altar pikiran, mencari sesuatu yang “lebih tinggi”, “lebih suci”, atau “lebih benar” dari dirimu yang nyata. Adalah kebohongan, bisikan yang merayap dari sudut-sudut katedral dan mimbar-mimbar agung, bahwa kita butuh cermin. Kau tidak butuh cermin. Yang kau butuhkan adalah kehancuran cermin-cermin itu, serpihan-serpihan yang memantulkan bukan dirimu, melainkan hantu-hantu yang mengklaim otoritas atas tubuhmu.
Bagiku, meditasi—penjara yang indah itu—telah mati. Ia berhenti di titik di mana aku menyadari bahwa aku tidak perlu mencari apa pun. Aku adalah segalanya bagi diriku sendiri. Seluruh argumen egoisme adalah titik di mana pencarian itu berhenti. Tak ada lagi puja-puji terhadap abstraksi yang mencuri napasmu. Tak ada lagi ruang untuk merenung di bawah bayang-bayang idealisme kemanusiaan, cinta kasih universal, atau hukum Tuhan.
Dunia ingin kau percaya bahwa orang lain adalah batas bagi kebebasanmu, cermin bagi jiwamu, atau mercusuar yang menerangi jalanmu. Omong kosong. Bagiku, kau bukanlah subjek yang harus kuhormati, bukan pula entitas yang harus kucintai demi kewajiban moral. Kau adalah materi. Kau adalah santapan bagi keunikanku; kabut yang harus kutembus, atau lebih baik, kuserap ke dalam paru-paruku sendiri. Betapa naifnya, gagasan tentang mencari “diri” yang ditemukan dalam diri orang lain atau dalam persetujuan mereka, dalam batas-batas yang mereka ukir. Mereka, dengan segala pretensi kesadaran dan kehendak mereka, hanyalah properti yang menunggu untuk diklaim, diserap, atau diabaikan, sejalan dengan kehendakku.
Egoisme bukanlah sebuah etika baru, melainkan makam bagi semua etika. Ini adalah seruan untuk memutus rantai setiap ide, setiap “Yang Sakral” yang berdiri di antara dirimu dan keunikanmu yang brutal. Kita tidak berdiskusi, kita mengambil. Kita tidak berempati, kita merasakan resonansi kekuasaan kita sendiri.
Ketika argumen egoisme dimulai, seluruh meditasi tentang kemanusiaan, cinta kasih universal, dan hukum Tuhan harus berakhir. Tak ada lagi ruang untuk merenung di bawah bayang-bayang idealisme. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang kreatif, di mana aku berdiri sebagai pusat, dan segala sesuatu yang berada di luar diriku hanyalah alat untuk merayakan eksistensiku. Setiap “yang lain” hanyalah alat, sebuah ekstensi, atau fatamorgana yang akhirnya akan lenyap di bawah tatapanku.
Maka, biarkan kegelapan yang pekat melingkupimu. Di sanalah, di antara bayangan-bayangan yang kau ciptakan dan kau hancurkan sendiri, kau akan menemukan dirimu yang sebenarnya, Yang Unik. Bukan yang diajarkan, bukan yang diharapkan, melainkan yang ada. Jangan mencari cahaya di luar sana. Bakar saja semua hantu yang bersarang dalam kepalamu, dan lihatlah bagaimana dunia menjadi terang benderang oleh kobaran api kehendakmu sendiri.