
Hanya ada sepasang mata yang telah mati, sebuah lubang tanpa dasar yang kau sebut tatapan. Dan senyum itu? Itu hanyalah luka yang terbuka di wajahmu— sebuah hampa yang tidak meminta untuk diisi. Tanpa rasa. Tanpa makna. Hanya daging yang dingin melawan udara yang busuk.
Ke mana kau akan menyeretku? Ke sebuah tanah yang diberkati, atau ke dasar jurang di mana tulang-belulang kita akan saling berpesta? Bagiku, keduanya sama saja. Kepastian adalah tuhan yang sudah lama mati di selokan kota ini sebelum sempat memberikan pemberkatan.
Kau mungkin terheran-heran melihatku tetap menetap, bahkan saat kau membuangku seperti sampah ke arah kegelapan. Kau akan bertanya dengan nalar yang picik: “Apa alasannya? Mengapa kau membiarkan dirimu hancur berkali-kali?”
Barangkali kau lupa, atau mungkin kau terlalu suci untuk mengerti: Aku mencintaimu sebagai sebuah ekses. Sebagai sebuah pemborosan. Cinta bukan tentang memilikimu, tapi tentang bagaimana aku merayakan kehancuranku di tanganmu. Itu saja. Sebuah pengorbanan tanpa altar.
Dan sekarang, setelah semua darah dan kabut ini bercampur, apakah wajahmu semakin jelas? Atau apakah kau sudah benar-benar lenyap, meninggalkanku sendirian dalam kegairahan yang semakin buram dan mematikan?