Anatomi Luka: 23;23:20;3:32:52;02:52

Hanya ada sepasang mata yang telah mati, sebuah lubang tanpa dasar yang kau sebut tatapan. Dan senyum itu? Itu hanyalah luka yang terbuka di wajahmu— sebuah hampa yang tidak meminta untuk diisi. Tanpa rasa. Tanpa makna. Hanya daging yang dingin melawan udara yang busuk.

Ke mana kau akan menyeretku? Ke sebuah tanah yang diberkati, atau ke dasar jurang di mana tulang-belulang kita akan saling berpesta? Bagiku, keduanya sama saja. Kepastian adalah tuhan yang sudah lama mati di selokan kota ini sebelum sempat memberikan pemberkatan.

Kau mungkin terheran-heran melihatku tetap menetap, bahkan saat kau membuangku seperti sampah ke arah kegelapan. Kau akan bertanya dengan nalar yang picik: “Apa alasannya? Mengapa kau membiarkan dirimu hancur berkali-kali?”

Barangkali kau lupa, atau mungkin kau terlalu suci untuk mengerti: Aku mencintaimu sebagai sebuah ekses. Sebagai sebuah pemborosan. Cinta bukan tentang memilikimu, tapi tentang bagaimana aku merayakan kehancuranku di tanganmu. Itu saja. Sebuah pengorbanan tanpa altar.

Dan sekarang, setelah semua darah dan kabut ini bercampur, apakah wajahmu semakin jelas? Atau apakah kau sudah benar-benar lenyap, meninggalkanku sendirian dalam kegairahan yang semakin buram dan mematikan?

 

 

Jejak-Jejak Bara

Kerinduan abadi akan kehilangan harapan, kehilangan cinta, serta hilangnya kehidupan.
Tidak pernah berhenti mencari sesuatu yang meringankan rasa sakit padahal sebenarnya rasa sakit itulah obatnya.
Kita yang berada di permukaan bumi ini dikutuk oleh para Dewa yang cemburu karena hanya kita yang dapat merasakan,
di dalam kefanaan kita, kita adalah pemenang, dan harga yang kita bayar adalah yang tertinggi.

Tak ada satu pun hal yang bertahan selamanya,
Cahaya yang sampai saat ini menghidupkan, pada akhirnya akan sirna;
Terang bulan berubah gelap, matahari meraksasa menemui ajalnya.
Bintang-bintang redup lalu meledak menjadi supernova,
Bumi bergerak memparipurnakan sebuah proses penghancuran spektakuler yang membinasakan segala bentuk kehidupan melalui kematiannya.

Sebelum semesta menjadi gelap, dingin, mati, dan langit mulai kehilangan biru; Tak ada salahnya untuk terus melangkah mengupayakan hidup
Lenyapkan segala mitos masa depan yang menakutimu
Jangan berhenti dan jangan pedulikan apa yang sudah berlalu.

Bahwa besok segala bentuk kehidupan akan binasa dan langit menjadi gelap pekat, bukan berarti harus kehilangan alasan untuk tetap hidup dan daya untuk merengkuh dunia.
Apa yang harus dikhawatirkan ketika kita tahu bahwa tak ada satu pun hal yang bertahan selamanya?
Lagipula, bukankah kehancuran dan kematian itu, seperti orgasme, adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup?