Maukah Kau Membakar Kota Indah Ini Sekali Lagi Bersamaku.

[Ilustrasi: Ryvalen Pedja, 2021]
Maukah kau berhenti sejenak bersamaku, menahan laju malam yang tak memberi ruang untuk bernapas, sementara kerumunan melaju tanpa sadar ke arah yang sama? 

Maukah kau menyulut sesuatu dalam dirimu sebagai gangguan kecil pada ketenangan yang bekerja seperti anestesi yang menjaga kegelapan agar tak pernah dipertanyakan.

Kita akan bersenang-senang ketika api menjalar di penjuru kota; berlari di bawah guyuran meriam air, menembus asap putih yang memaksa mata berair. Kita berlari menghindari babi-babi di jantung kota, mengejar cahaya bulan yang tergantung di balik bangunan yang dilalap nyala.

Dan ketika semua itu berakhir, maukah kau tetap bersamaku untuk terus melampaui segalanya?

Jika jawaban dari setiap pertanyaan adalah tidak, tak ada yang perlu disesalkan. Dengan atau tanpa aku, ke mana pun arah yang kau tuju;  langkahmu tetap harus diteruskan. Aku akan memilih lintasan berlawanan, membiarkan inisiatif tumbuh di setiap tanah yang dibasahi rintikan hujan, memaksa kehancuran menampakkan keindahannya.

Aku akan berjalan seorang diri, dikelilingi distopia yang menetap di kepala. Merobek kertas-kertas penuh aksara tentang kebangkitan peradaban. Para pendahulu membusuk bukan sebagai pelajaran melainkan sebagai residu. Jalan mereka tidak menyesatkan, hanya membosankan. Jalan tidak diwariskan, Ia terjadi seperti retakan, seperti runtuh, seperti langkah yang terus berlanjut meski arah telah kehilangan alasan. 

Sampai bertemu lagi, di kesempatan lain.
Dan selalu, pesanku di persimpangan:

“Matilah kebersamaan yang memuakkan.”