Menyanyikan Kehidupan di Antara Bayang-bayang: Refleksi Pesta Kosong

“Kalah dalam lumpur atau menang di bawah sinar matahari, aku menyanyikan kehidupan dan aku menyukainya!”

Di tengah pesta kosong dan dalam ambang gelap serta angin yang menghembuskan pesan-pesan getir yang tersembunyi di dalamnya, aku menemukan diri berputar menjelajahi labirin emosi dan pikiran, menyatu dengan bayang-bayang yang menari, diiringi lagu kehidupan yang mengalun dengan nada-nada kegembiraan dan kesedihan, merayakan setiap jengkal perjalanan yang telah kutempuh, dengan segala kemenangan dan kekalahan yang membentuk jalan hidupku.

Meski langkah-langkahku seringkali dipenuhi dengan keraguan, namun aku menemukan kekuatan dalam ketidakpastian tersebut. Aku menolak untuk tunduk pada ketakutan dan pesimisme yang merayap di sekelilingku. Sebaliknya, aku memilih untuk menghadapi hidup dengan semangat yang membara, sekalipun itu berarti menghadapi kehampaan yang tak terelakkan.

Aku memahami bahwa hidup penuh dengan penderitaan dan kekecewaan, namun aku juga menyadari bahwa akan selalu ada keindahan yang bersemi dalam kemenangan-kemenangan kecil di tengah badai. maka, setiap lilin yang kuhembuskan adalah pesta kecil bagi serpihan harapan yang telah hancur dan setiap kekalahan adalah simfoni pembuka bagi setiap kemenangan baru.

Dalam segala kelebihan dan kekurangan, dengan harapan bahwa keberanian dan semangat akan terus menyertaiku dalam perjalanan yang tak terduga ini; Aku bergumam di bingkai dua puluh lima, tak banyak yang aku inginkan dalam hidup, yang aku ingin hanyalah ketenangan dan ketetapan hati untuk senantiasa bisa melakukan sesuatu yang kuyakini, kusayangi, dan aku anggap benar.

Teruslah hidup lebih lama lagi dan ketika tiba waktunya mati, biarkan aku menjadi debu yang terbawa angin, yang melayang bebas di antara bintang-bintang.