Arsitektur Kesendirian: Transendensi Subjek di Atas Puing Moralitas Kawanan

Tak ada bedanya apa yang akan dipikirkan orang lain tentangmu.
Maka, buatlah proyek spektakuler[1], seperti Nuh.

Keresahan manusia modern terhadap “apa yang dipikirkan orang lain” bukanlah sekadar kecemasan sosial biasa; ini adalah jejak purba dari moralitas kawanan (Herdenmoral) yang telah mendarah daging. Dalam kerangka Nietzschean, keinginan untuk diterima dan divalidasi oleh publik adalah gejala dekadensi yang paling banal—sebuah pelemahan vitalitas di mana individu mengizinkan dirinya menjadi objek bagi subjek kolektif yang medioker.

Ketika seseorang mendasarkan tindakannya pada ekspektasi publik, ia tidak hanya sedang melakukan pengkhianatan terhadap Will to Power (Kehendak untuk Berkuasa), tetapi juga meniadakan kemungkinan Will to Power itu muncul. Namun di titik ini, perlu kehati-hatian: sebab, Will to Power itu sendiri dapat berubah menjadi berhala baru jika diperlakukan sebagai legitimasi otomatis bagi setiap dorongan batin. Tidak semua yang lahir dari “insting” adalah afirmasi kehidupan; sebagian hanyalah reaksi yang belum menemukan lawannya. Mengkultuskan kehendak personal tanpa mengujinya pada resistensi dunia berisiko mengganti moralitas kawanan dengan mitologi individual yang sama tertutupnya.

Premis “Tak ada bedanya apa yang dipikirkan orang lain…” bukanlah nasihat pengembangan diri, melainkan sebuah proklamasi Kematian Penonton. Tidak ada penonton yang layak dipertimbangkan, karena tidak ada satu pun dari mereka yang akan menanggung konsekuensi hidupmu.

Dalam penciptaan sesuatu yang benar-benar berbeda (spektakuler), sang kreator harus terlebih dahulu membunuh “Tuhan”, yang dalam konteks ini, berbentuk opini publik. Tetapi tindakan membunuh “Tuhan” tidak menjamin lahirnya kebenaran. Sebab dalam banyak kasus, yang tersisa hanyalah ruang kosong tempat kesalahan tumbuh tanpa koreksi. Sehingga tidak semua yang dicemooh publik sedang mendahului zamannya; sebagian hanya salah membaca medan, dan kesalahan itu tidak otomatis menjadi kebajikan hanya karena dilakukan sendirian.

Tanpa keberanian untuk menjadi “yang jahat” atau “yang gila” di mata massa, seseorang hanya akan mampu menghasilkan reproduksi dari apa yang sudah aman beredar, bukan kreasi. Dalam konteks ini, Nuh muncul sebagai metafora ekstrem bagi autarki estetika, suatu kondisi di mana kebenaran sebuah karya tidak lagi bergantung pada konsensus, melainkan pada ketetapan batin sang arsitek. Tindakan Nuh membangun bahtera di tengah gurun adalah sebuah tindakan yang secara fungsionalitas dianggap absurd oleh logika sezamannya. Namun, ketidakpedulian terhadap ejekan tetangganya bukanlah bentuk kenaifan, melainkan bentuk Kedaulatan. Ia telah melampaui “kebenaran pasar”. Melampaui kebutuhan untuk dimengerti.

Proyek spektakuler menuntut isolasi radikal dan periode di mana sang pencipta harus menjadi tuli—bukan terhadap kritik yang buruk saja, tetapi juga terhadap pujian yang prematur—agar bisa mendengar suara instingnya sendiri. Namun ketulian ini bukan keadaan permanen. Isolasi yang terlalu lama berisiko mengeras menjadi dogma privat. Insting yang tidak pernah diuji dapat kehilangan ketajamannya kemudian berubah menjadi gema dirinya sendiri. Di titik ini, kesendirian tidak lagi produktif—ia akan menjadi steril.

Kebebasan dari penilaian orang lain bukanlah sebuah sikap pasif, melainkan sebuah prasyarat teknis bagi lahirnya Magnum Opus. Jika Nuh mendengarkan kritik tentang “efisiensi lokasi” atau “estetika kapal”, bahtera itu tidak akan pernah sanggup menanggung beban badai yang akan datang.

Setiap proyek spektakuler pada hakikatnya adalah sebuah bahtera—sebuah struktur yang dibangun untuk bertahan melampaui keruntuhan zamannya. Sebuah upaya individual untuk tidak ikut tenggelam bersama kebiasaan umum. Nietzsche berbicara tentang Umwertung aller Werte atau penilaian kembali atas semua nilai, dan sebuah proyek spektakuler tidaklah melayani dunia yang sekarang; ia justru menubuatkan kehancuran tatanan lama.

Ketidakpedulian terhadap opini orang lain adalah pengakuan pahit bahwa dunia mereka sudah “tenggelam” dalam dekadensi pikiran mereka sendiri, jauh sebelum hujan pertama turun. Namun pengakuan ini tetap harus berani menanggung kemungkinan paling tidak nyaman: bahwa mungkin air bah tidak datang sesuai perkiraan, atau datang dengan arah yang tak terduga. Proyek spektakuler yang matang bukan hanya siap menertawakan dunia tapi juga siap menghadapi kemungkinan bahwa dunia akan menertawakannya dengan alasan yang sah.

Oleh karena itu, membangun proyek spektakuler merupakan tindakan politik yang radikal: sebuah penolakan untuk berpartisipasi dalam keruntuhan kolektif dan memilih untuk mengapung dalam kebenaran yang diciptakan sendiri.

Pada akhirnya, proyek spektakuler adalah ujian ketahanan psikologis seseorang terhadap kesepian yang mendalam. Hanya mereka yang mampu menanggung beban “menjadi asing” yang berhak atas masa depan. Kita tidak membangun untuk mendapatkan tepuk tangan, karena tepuk tangan adalah mata uang dari mereka yang kita tinggalkan di daratan yang akan tenggelam.

Maka, palulah kayu-kayumu. Biarkan setiap paku yang kau tancapkan menjadi paku mati bagi pengaruh opini publik terhadap jiwamu. Jadilah Nuh bagi dirimu sendiri: seorang arsitek yang kedinginan dan ditertawakan, namun memegang kunci bagi apa yang akan tetap tegak ketika semua yang lumrah musnah ditelan air bah sejarah.


[1] Proyek spektakuler adalah apa pun yang saat ini kita takuti untuk mulai karena kita terlalu sibuk membayangkan wajah sinis orang lain.

Menyanyikan Kehidupan di Antara Bayang-bayang: Refleksi Pesta Kosong

“Kalah dalam lumpur atau menang di bawah sinar matahari, aku menyanyikan kehidupan dan aku menyukainya!”

Di tengah pesta kosong dan dalam ambang gelap serta angin yang menghembuskan pesan-pesan getir yang tersembunyi di dalamnya, aku menemukan diri berputar menjelajahi labirin emosi dan pikiran, menyatu dengan bayang-bayang yang menari, diiringi lagu kehidupan yang mengalun dengan nada-nada kegembiraan dan kesedihan, merayakan setiap jengkal perjalanan yang telah kutempuh, dengan segala kemenangan dan kekalahan yang membentuk jalan hidupku.

Meski langkah-langkahku seringkali dipenuhi dengan keraguan, namun aku menemukan kekuatan dalam ketidakpastian tersebut. Aku menolak untuk tunduk pada ketakutan dan pesimisme yang merayap di sekelilingku. Sebaliknya, aku memilih untuk menghadapi hidup dengan semangat yang membara, sekalipun itu berarti menghadapi kehampaan yang tak terelakkan.

Aku memahami bahwa hidup penuh dengan penderitaan dan kekecewaan, namun aku juga menyadari bahwa akan selalu ada keindahan yang bersemi dalam kemenangan-kemenangan kecil di tengah badai. maka, setiap lilin yang kuhembuskan adalah pesta kecil bagi serpihan harapan yang telah hancur dan setiap kekalahan adalah simfoni pembuka bagi setiap kemenangan baru.

Dalam segala kelebihan dan kekurangan, dengan harapan bahwa keberanian dan semangat akan terus menyertaiku dalam perjalanan yang tak terduga ini; Aku bergumam di bingkai dua puluh lima, tak banyak yang aku inginkan dalam hidup, yang aku ingin hanyalah ketenangan dan ketetapan hati untuk senantiasa bisa melakukan sesuatu yang kuyakini, kusayangi, dan aku anggap benar.

Teruslah hidup lebih lama lagi dan ketika tiba waktunya mati, biarkan aku menjadi debu yang terbawa angin, yang melayang bebas di antara bintang-bintang.

The Mad Monk

AWAKENING. EVOLUTION. INSURRECTION.

Judul-judul besar selalu berbohong. Mereka terdengar seperti puncak pencerahan, padahal sering kali hanya dalih paling rapi untuk menghalalkan kekerasan—baik oleh negara, agama, maupun individu yang terlalu pengecut untuk mengakui kemarahannya sendiri. Grafik ini tidak menawarkan kedamaian melainkan kejujuran. Dan kejujuran kerap kali membuat tidak nyaman.

The Mad Monk adalah anomali, bukan figur suci. Seorang pertapa yang sadar bahwa ketenangan batin tidak pernah lahir dari dunia yang tertib, melainkan dari dunia yang retak. Zen di sini bukan praktik pernapasan atau estetika minimalis kelas menengah. Zen adalah pengakuan telanjang bahwa dukkha bukan gangguan yang harus dihapus, tapi kondisi dasar yang harus dihadapi tanpa ilusi bahwa segala sesuatu akan membaik.

Di bawah slogan Zen and the Art of Violence, kekerasan tidak sedang diglorifikasi. Ia diposisikan sebagai gejala. Ketika struktur sosial membusuk, ketika hukum menjadi alat kekuasaan dan moral hanya jargon kosong, kekerasan muncul bukan sebagai pilihan bebas, tapi sebagai bahasa terakhir yang tersisa. Mereka yang pura-pura terkejut oleh kerusuhan sesungguhnya sedang memeluk kenyamanan buta: menikmati stabilitas yang dibangun di atas penindasan yang tak terlihat.

Kekerasan dalam gambar-gambar ini tidak memiliki makna moral. Mereka menuntut pembacaan ulang di luar oposisi biner antara baik dan jahat. Polisi berperisai, tubuh-tubuh yang berlari, api, dan kerumunan semuanya membentuk liturgi modern. Ini bukan ritual agama lama, melainkan misa negara-bangsa: Negara menyebutnya ketertiban. Sejarah menyebutnya siklus. Tidak ada pihak yang benar, hanya pihak yang bertahan sedikit lebih lama.

Di titik ini, nihilisme tidak datang sebagai sikap intelektual, tapi sebagai kesimpulan logis. Jika semua sistem berakhir pada dominasi dan semua nilai akhirnya melayani kekuasaan, maka pertanyaan tentang keadilan menjadi tidak relevan. Yang tersisa hanyalah gesekan antara tubuh, alat, dan ruang.

The Mad Monk hadir untuk menolak hipokrisi. Ia memahami paradoks yang dihindari oleh kaum moralis: bahwa kedamaian yang dipaksakan adalah bentuk kekerasan paling halus. Bahwa seruan “tenanglah” sering kali berarti “diam dan patuhlah.”

Awakening bukanlah pencerahan spiritual tapi momen ketika seseorang berhenti mempercayai narasi resmi dari pihak yang dianggap sebagai penindas. Evolution bukan sebuah kemajuan linear, tapi mutasi dari kesadaran yang sudah muak. Dan Insurrection tidak dimaksudkan untuk meromantisasi chaos, tapi konsekuensi logis ketika semua jalur lain telah diblokir.

Kalimat “allow us to educate you on the concept of dukkha” tidak mengandung niat untuk mendidik. Ia mengejek. Semua orang sudah tahu apa itu penderitaan. Mereka hanya berpura-pura tidak tahu agar bisa tidur, bekerja, dan patuh keesokan harinya. Lagi pula Dukkha tidak membutuhkan guru, ia hanya membutuhkan saksi yang jujur. Dan kejujuran menyatakan satu hal: kekerasan akan terus kembali, entah dalam bentuk tongkat aparat atau batu dari tangan-tangan yang putus asa.

Esai ini bukan ajakan untuk memukul. Namun ajakan untuk berhenti berpura-pura. Jika dunia terasa semakin kasar, mungkin bukan karena manusia semakin jahat, tapi karena topeng kesopanan akhirnya retak. The Mad Monk adalah sebuah cermin dan kebanyakan orang membenci apa yang mereka lihat di sana.

Jika ada Zen di sini, ia tidak membawa ketenangan, tidak juga menjanjikan pelepasan. Ia hanya menyisakan kejernihan untuk melihat dunia apa adanya, tanpa harapan, tanpa tuntutan makna, dan tetap berjalan di dalamnya; bukan karena percaya, tapi karena belum mati.

Maukah Kau Membakar Kota Indah Ini Sekali Lagi Bersamaku.

[Ilustrasi: Ryvalen Pedja, 2021]
Maukah kau berhenti sejenak bersamaku, menahan laju malam yang tak memberi ruang untuk bernapas, sementara kerumunan melaju tanpa sadar ke arah yang sama? 

Maukah kau menyulut sesuatu dalam dirimu sebagai gangguan kecil pada ketenangan yang bekerja seperti anestesi yang menjaga kegelapan agar tak pernah dipertanyakan.

Kita akan bersenang-senang ketika api menjalar di penjuru kota; berlari di bawah guyuran meriam air, menembus asap putih yang memaksa mata berair. Kita berlari menghindari babi-babi di jantung kota, mengejar cahaya bulan yang tergantung di balik bangunan yang dilalap nyala.

Dan ketika semua itu berakhir, maukah kau tetap bersamaku untuk terus melampaui segalanya?

Jika jawaban dari setiap pertanyaan adalah tidak, tak ada yang perlu disesalkan. Dengan atau tanpa aku, ke mana pun arah yang kau tuju;  langkahmu tetap harus diteruskan. Aku akan memilih lintasan berlawanan, membiarkan inisiatif tumbuh di setiap tanah yang dibasahi rintikan hujan, memaksa kehancuran menampakkan keindahannya.

Aku akan berjalan seorang diri, dikelilingi distopia yang menetap di kepala. Merobek kertas-kertas penuh aksara tentang kebangkitan peradaban. Para pendahulu membusuk bukan sebagai pelajaran melainkan sebagai residu. Jalan mereka tidak menyesatkan, hanya membosankan. Jalan tidak diwariskan, Ia terjadi seperti retakan, seperti runtuh, seperti langkah yang terus berlanjut meski arah telah kehilangan alasan. 

Sampai bertemu lagi, di kesempatan lain.
Dan selalu, pesanku di persimpangan:

“Matilah kebersamaan yang memuakkan.”

BoomWruuughTwarhDing: Tentang Pemborosan, Kedekatan, dan Akhir yang Tidak Menyelamatkan

Manusia terlalu lama percaya bahwa hidup bergerak menuju sesuatu. Keyakinan itu sendiri adalah kebohongan paling mahal yang pernah diproduksi peradaban. Tidak ada tujuan akhir. Yang ada hanya akumulasi energi yang pada titik tertentu harus dibuang, dihancurkan, atau diluapkan tanpa alasan.

Georges Bataille memahami ini dengan kejelasan yang menjijikkan: kehidupan tidak diatur oleh kebutuhan, melainkan oleh kelebihan. Oleh sesuatu yang tidak berguna, tidak produktif, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Ketika kelebihan itu tidak menemukan saluran ritual, ia meledak sebagai bencana.

Dalam momen-momen tertentu, batas antara kehidupan dan kematian menipis karena keduanya saling menelan. Di sana, makna runtuh sebagai kelegaan. Tidak ada lagi kewajiban untuk memahami, membenarkan, atau berharap.

Yang sakral tidak pernah bersih. Ia selalu dekat dengan yang menjijikkan, yang erotik, yang berlebihan. Kesakralan adalah panas yang membakar jarak aman antara subjek dan kehancuran. Di titik itu, manusia kehilangan kedaulatannya justru ketika ia merasa paling sadar akan dirinya sendiri.

Kedekatan lahir dari pengakuan bersama akan kefanaan yang sama bukan dari cinta atau solidaritas. Dua keberadaan dapat duduk bersebelahan tanpa saling menyelamatkan, tanpa saling menjanjikan masa depan, dan justru di sanalah keintiman mencapai bentuknya yang paling jujur.

Nihilisme bukan penolakan makna yang dingin, melainkan mabuk oleh absennya makna. Dunia tidak gagal. Dunia bekerja sebagaimana mestinya: menghabiskan dirinya sendiri.

Tidak ada satu pelajaran pun yang bisa dipetik dari kehancuran. Tidak ada moral yang muncul dari pemborosan. Hanya ada pengalaman singkat di mana manusia berhenti berpura-pura bahwa hidup ini efisien, masuk akal, atau adil.

Jika pada titik ini sesuatu terasa sakral, itu karena ia membuka mata, sesaat saja, pada kebenaran yang biasanya ditutupi oleh rutinitas: bahwa keberadaan tidak membutuhkan alasan untuk berakhir.

Dan dalam ketiadaan alasan itulah, kehidupan memperlihatkan wajahnya yang paling jujur.

Dunia Sedang Merangkak Menuju Kehancuran?

We crawl away from the 2020;
ashes, ashes, ashes, then,
we all fall to dust.

Hidup menjadi jauh lebih buruk dan tidak membahagiakan saat ini. di tengah dunia yang sedang dilanda wabah corona, semuanya menjadi terasa melelahkan, membosankan, dan juga membuat stress. ini aneh. siapa yang tak merasakannya? aku bahkan merasa bosan berada di rumah karena isolasi, padahal aku sudah melakukan itu sebelum kondisi mengharuskan semua orang melakukan isolasi  dan tampaknya itu membuatku merasa segalanya menjadi jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan ketika aku melakukannya atas kemauan sendiri. mungkin kalian juga merasakan hal yang sama sepertiku.

jika segalanya terasa lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya karena kita sedang berada di penghujung peradaban, sepertinya kita harus berhenti menganggap bahwa 2020 adalah tahun yang buruk dan berhenti berpikir seolah-olah hal-hal buruk hanya terjadi tergantung pada tanggal dan perhitungan tahun di kalender. percayalah bahwa 2021, 2022, 2023, …., dst, tidak akan menjadi lebih baik, setiap hari akan terus memburuk dan semakin memburuk. badai pasti berlalu pun dengan segala hal buruk, tentu saja, tapi ketika satu hal buruk berlalu, hal buruk lainnya sudah menunggu di depan sana. mari berikan ucapan selamat datang dan berikan perayaan untuknya.

Kita semua sama-sama tahu bahwa saat ini hidup sedang berantakan dan menyebalkan, meski demikian, bukan berarti aku mengatakan bahwa kehidupan sebelum wabah datang itu menyenangkan, tapi mungkin apa yang akan terjadi pada beberapa dekade selanjutnya akan membuat hari ini dan sebelumnya terlihat seperti kenangan indah. adanya wabah ini paling tidak memberikan kita kesadaran hingga kita tahu betapa mudahnya kehidupan ini berhenti dan seberapa cepat semuanya bisa berubah. pelajaran penting dari wabah ini: kehidupan yang kita kenal sekarang telah berakhir. tidak, aku tidak mengatakan bahwa isolasi akan terjadi selamanya. Tapi wabah ini tidak akan hilang dalam waktu dekat. Oleh karena itulah, dalam kurun waktu yang entah sampai kapan, kita akan hidup berdampingan bersama virus dan tentu saja ini akan merampas kehidupan kita dan menyebabkan gelombang depresi yang besar, melebihi yang pernah ada pada tahun 1930. jika sebelumnya dunia membentuk sebagian dari generasi kita menjadi generasi konsumtif yang sama murahannya dengan produk yang dibeli, saat ini dunia menjadikan kita generasi depresif karena sebagian besar umat manusia tidak memiliki tempat tinggal, tidak mampu untuk bertahan hidup, dan kebingungan untuk mencari nafkah karena sulitnya mencari pekerjaan dan juga upah yang semakin menurun, dst. mungkin kalian yang memiliki sejumlah tabungan mampu untuk bertahan tanpa harus dipusingkan dengan pilihan mengenai hal paling mendasar dalam hidup karena kalian mempunyai banyak akal untuk tetap memenuhi kebutuhan dasar kalian tanpa harus memilih sehingga kalian akan mampu melewati itu, masalahnya adalah ketika kalian menghabiskan pendapatan dan tabungan untuk memenuhi kebutuhan dasar, lama-kelamaan uang kalian akan habis karena kalian terlalu banyak mengeluarkan uang untuk mempertahankan kebiasaan kalian. pada titik inilah sepertinya kalian memang harus khawatir dengan apa yang akan terjadi beberapa puluh tahun ke depan.

dunia sedang merangkak maju menuju akhir peradaban dan wabah ini, mungkin, hanyalah awal dari segala hal lain yang lebih spektakuler, atau dengan kata lain, wabah adalah satu dari sekian banyak gambaran, peringatan, dan juga potret mengenai masa depan kehidupan kita yang suram. maka cukup mudah untuk membayangkan hal apa saja yang akan terjadi pada tiga atau empat dekade terhitung sejak wabah ini bergulir. perubahan iklim, kerusakan ekologi, depresi ekonomi, krisis keuangan, pergolakan politik, dan gelombang baru untuk wabah penyakit sudah menunggu di depan sana. perubahan iklim akan meningkatkan tingkat kepunahan ikan karena bumi mengalami ketidakstabilan suhu dan musim mengakibatkan air yang ditinggali ikan menjadi terlalu hangat sehingga ikan tidak bisa berkembang biak. disusul dengan kerusakan ekologi yang diawali dengan putusnya rantai kehidupan dan matinya hewan-hewan seperti cacing, serangga, lebah, dan seterusnya yang memiliki peran penting dalam berjalannya  kehidupan di planet ini. Sungai-sungai berubah menjadi lumpur karena ikan yang biasa membersihkan sungai, telah mati. tidak ada lagi yang akan memberi makan tanaman dan menjaga kesehatan hutan karena serangga pun telah pergi—mati. inilah saat di mana ekosistem di bumi mengalami penurunan yang tidak dapat diubah dan akan menyebabkan bencana bagi kita.

pew, di titik ini kehidupan di bumi perlahan mulai mati.

bumi akan dilanda kekeringan, sungai tak lagi bersih, ini akan menjadi periode dimana air bersih menjadi sesuatu yang mewah. tanah berubah menjadi debu dan sulit untuk ditanami, tidak ada lagi panen, bahan mentah tidak lagi bisa diakses. tidak ada lagi makanan yang mudah didapatkan. pun dengan langkanya obat-obatan yang berbahan dasar senyawa, dan seterusnya. kita akan bersaing sengit hanya untuk mendapatkan makanan, yang tak mampu bersaing akan mati kelaparan. kematian massal menjadi penanda lenyapnya sebagian manusia bersamaan dengan peradaban saat ini tapi tidak menutup kemungkinan akan ada sebuah peradaban baru yang tentu saja akan berbeda dengan peradaban kita karena kehidupan manusia bisa saja berakhir tapi bukan berarti itu akhir dari proyeksi individu. siapa yang tahu? yang pasti adalah bahwa kehancuran telah ada di depan mata kita, wabah corona memberikan kita peringatan dan ia mengajari kita untuk bisa melihat akhir dunia dari sini. kita bisa melihat cahaya peradaban meredup kemudian padam. semua hilang dan yang tersisa hanyalah perjuangan yang putus asa dari manusia untuk mempertahankan hidupnya. saling ‘memakan’ satu sama lain hingga semua berubah menjadi debu, api, dan kematian. maka jika saat itu ada hukum universal yang berlaku di bumi, itu adalah kenyataan yang kuat memakan yang lemah. begitulah akhir dari peradaban manusia saat ini. biarkanlah semuanya hancur tapi kita harus pastikan bahwa kita akan menari diatasnya dan merayakan kehancurannya.

Ocehan mengenai akhir dari dunia ini tak lebih dari sekadar omong kosong. kita tetap tidak akan pernah mengetahui dengan pasti kapan dunia ini benar-benar berakhir, tapi setiap tindakan yang manusia ambil adalah suatu kemungkinan yang bisa mengantarkan manusia menuju kepunahannya. hidup di akhir-akhir peradaban memang menyebalkan. bukan hanya karena hidup ini melelahkan, membosankan, dan suram. tapi karena kita tahu bahwa seharusnya kita bisa terhindar dari ini jika saja kita tidak melakukan sdlfj&@**#(@skdkj tapi sudahlah mungkin memang harus selalu seperti ini, kita harus selalu gagal agar kita bisa tetap mewariskan kegagalan kepada generasi setelah kita. seperti yang dilakukan oleh generasi sebelum kita kepada generasi kita.

 


Tulisan ini juga sedikit merangkum beberapa informasi dari tulisan di Medium yang berjudul If Life Feels Bleak, It’s Because Our Civilization is Beginning to Collapse


 

Anatomi Luka: 23;23:20;3:32:52;02:52

Hanya ada sepasang mata yang telah mati, sebuah lubang tanpa dasar yang kau sebut tatapan. Dan senyum itu? Itu hanyalah luka yang terbuka di wajahmu— sebuah hampa yang tidak meminta untuk diisi. Tanpa rasa. Tanpa makna. Hanya daging yang dingin melawan udara yang busuk.

Ke mana kau akan menyeretku? Ke sebuah tanah yang diberkati, atau ke dasar jurang di mana tulang-belulang kita akan saling berpesta? Bagiku, keduanya sama saja. Kepastian adalah tuhan yang sudah lama mati di selokan kota ini sebelum sempat memberikan pemberkatan.

Kau mungkin terheran-heran melihatku tetap menetap, bahkan saat kau membuangku seperti sampah ke arah kegelapan. Kau akan bertanya dengan nalar yang picik: “Apa alasannya? Mengapa kau membiarkan dirimu hancur berkali-kali?”

Barangkali kau lupa, atau mungkin kau terlalu suci untuk mengerti: Aku mencintaimu sebagai sebuah ekses. Sebagai sebuah pemborosan. Cinta bukan tentang memilikimu, tapi tentang bagaimana aku merayakan kehancuranku di tanganmu. Itu saja. Sebuah pengorbanan tanpa altar.

Dan sekarang, setelah semua darah dan kabut ini bercampur, apakah wajahmu semakin jelas? Atau apakah kau sudah benar-benar lenyap, meninggalkanku sendirian dalam kegairahan yang semakin buram dan mematikan?

 

 

Jejak-Jejak Bara

Kerinduan abadi akan kehilangan harapan, kehilangan cinta, serta hilangnya kehidupan.
Tidak pernah berhenti mencari sesuatu yang meringankan rasa sakit padahal sebenarnya rasa sakit itulah obatnya.
Kita yang berada di permukaan bumi ini dikutuk oleh para Dewa yang cemburu karena hanya kita yang dapat merasakan,
di dalam kefanaan kita, kita adalah pemenang, dan harga yang kita bayar adalah yang tertinggi.

Tak ada satu pun hal yang bertahan selamanya,
Cahaya yang sampai saat ini menghidupkan, pada akhirnya akan sirna;
Terang bulan berubah gelap, matahari meraksasa menemui ajalnya.
Bintang-bintang redup lalu meledak menjadi supernova,
Bumi bergerak memparipurnakan sebuah proses penghancuran spektakuler yang membinasakan segala bentuk kehidupan melalui kematiannya.

Sebelum semesta menjadi gelap, dingin, mati, dan langit mulai kehilangan biru; Tak ada salahnya untuk terus melangkah mengupayakan hidup
Lenyapkan segala mitos masa depan yang menakutimu
Jangan berhenti dan jangan pedulikan apa yang sudah berlalu.

Bahwa besok segala bentuk kehidupan akan binasa dan langit menjadi gelap pekat, bukan berarti harus kehilangan alasan untuk tetap hidup dan daya untuk merengkuh dunia.
Apa yang harus dikhawatirkan ketika kita tahu bahwa tak ada satu pun hal yang bertahan selamanya?
Lagipula, bukankah kehancuran dan kematian itu, seperti orgasme, adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup?

 

Perjamuan Sang Unik di Atas Bangkai Hantu.

the entire argument of egoism is the end of meditation.

Meditasi adalah bentuk penghambaan yang paling halus. Ia memaksamu berlutut di depan altar pikiran, mencari sesuatu yang “lebih tinggi”, “lebih suci”, atau “lebih benar” dari dirimu yang nyata. Adalah kebohongan, bisikan yang merayap dari sudut-sudut katedral dan mimbar-mimbar agung, bahwa kita butuh cermin. Kau tidak butuh cermin. Yang kau butuhkan adalah kehancuran cermin-cermin itu, serpihan-serpihan yang memantulkan bukan dirimu, melainkan hantu-hantu yang mengklaim otoritas atas tubuhmu.

Bagiku, meditasi—penjara yang indah itu—telah mati. Ia berhenti di titik di mana aku menyadari bahwa aku tidak perlu mencari apa pun. Aku adalah segalanya bagi diriku sendiri. Seluruh argumen egoisme adalah titik di mana pencarian itu berhenti. Tak ada lagi puja-puji terhadap abstraksi yang mencuri napasmu. Tak ada lagi ruang untuk merenung di bawah bayang-bayang idealisme kemanusiaan, cinta kasih universal, atau hukum Tuhan.

Dunia ingin kau percaya bahwa orang lain adalah batas bagi kebebasanmu, cermin bagi jiwamu, atau mercusuar yang menerangi jalanmu. Omong kosong. Bagiku, kau bukanlah subjek yang harus kuhormati, bukan pula entitas yang harus kucintai demi kewajiban moral. Kau adalah materi. Kau adalah santapan bagi keunikanku; kabut yang harus kutembus, atau lebih baik, kuserap ke dalam paru-paruku sendiri. Betapa naifnya, gagasan tentang mencari “diri” yang ditemukan dalam diri orang lain atau dalam persetujuan mereka, dalam batas-batas yang mereka ukir. Mereka, dengan segala pretensi kesadaran dan kehendak mereka, hanyalah properti yang menunggu untuk diklaim, diserap, atau diabaikan, sejalan dengan kehendakku.

Egoisme bukanlah sebuah etika baru, melainkan makam bagi semua etika. Ini adalah seruan untuk memutus rantai setiap ide, setiap “Yang Sakral” yang berdiri di antara dirimu dan keunikanmu yang brutal. Kita tidak berdiskusi, kita mengambil. Kita tidak berempati, kita merasakan resonansi kekuasaan kita sendiri.

Ketika argumen egoisme dimulai, seluruh meditasi tentang kemanusiaan, cinta kasih universal, dan hukum Tuhan harus berakhir. Tak ada lagi ruang untuk merenung di bawah bayang-bayang idealisme. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang kreatif, di mana aku berdiri sebagai pusat, dan segala sesuatu yang berada di luar diriku hanyalah alat untuk merayakan eksistensiku. Setiap “yang lain” hanyalah alat, sebuah ekstensi, atau fatamorgana yang akhirnya akan lenyap di bawah tatapanku.

Maka, biarkan kegelapan yang pekat melingkupimu. Di sanalah, di antara bayangan-bayangan yang kau ciptakan dan kau hancurkan sendiri, kau akan menemukan dirimu yang sebenarnya, Yang Unik. Bukan yang diajarkan, bukan yang diharapkan, melainkan yang ada. Jangan mencari cahaya di luar sana. Bakar saja semua hantu yang bersarang dalam kepalamu, dan lihatlah bagaimana dunia menjadi terang benderang oleh kobaran api kehendakmu sendiri.