The Mad Monk

AWAKENING. EVOLUTION. INSURRECTION.

Judul-judul besar selalu berbohong. Mereka terdengar seperti puncak pencerahan, padahal sering kali hanya dalih paling rapi untuk menghalalkan kekerasan—baik oleh negara, agama, maupun individu yang terlalu pengecut untuk mengakui kemarahannya sendiri. Grafik ini tidak menawarkan kedamaian melainkan kejujuran. Dan kejujuran kerap kali membuat tidak nyaman.

The Mad Monk adalah anomali, bukan figur suci. Seorang pertapa yang sadar bahwa ketenangan batin tidak pernah lahir dari dunia yang tertib, melainkan dari dunia yang retak. Zen di sini bukan praktik pernapasan atau estetika minimalis kelas menengah. Zen adalah pengakuan telanjang bahwa dukkha bukan gangguan yang harus dihapus, tapi kondisi dasar yang harus dihadapi tanpa ilusi bahwa segala sesuatu akan membaik.

Di bawah slogan Zen and the Art of Violence, kekerasan tidak sedang diglorifikasi. Ia diposisikan sebagai gejala. Ketika struktur sosial membusuk, ketika hukum menjadi alat kekuasaan dan moral hanya jargon kosong, kekerasan muncul bukan sebagai pilihan bebas, tapi sebagai bahasa terakhir yang tersisa. Mereka yang pura-pura terkejut oleh kerusuhan sesungguhnya sedang memeluk kenyamanan buta: menikmati stabilitas yang dibangun di atas penindasan yang tak terlihat.

Kekerasan dalam gambar-gambar ini tidak memiliki makna moral. Mereka menuntut pembacaan ulang di luar oposisi biner antara baik dan jahat. Polisi berperisai, tubuh-tubuh yang berlari, api, dan kerumunan semuanya membentuk liturgi modern. Ini bukan ritual agama lama, melainkan misa negara-bangsa: Negara menyebutnya ketertiban. Sejarah menyebutnya siklus. Tidak ada pihak yang benar, hanya pihak yang bertahan sedikit lebih lama.

Di titik ini, nihilisme tidak datang sebagai sikap intelektual, tapi sebagai kesimpulan logis. Jika semua sistem berakhir pada dominasi dan semua nilai akhirnya melayani kekuasaan, maka pertanyaan tentang keadilan menjadi tidak relevan. Yang tersisa hanyalah gesekan antara tubuh, alat, dan ruang.

The Mad Monk hadir untuk menolak hipokrisi. Ia memahami paradoks yang dihindari oleh kaum moralis: bahwa kedamaian yang dipaksakan adalah bentuk kekerasan paling halus. Bahwa seruan “tenanglah” sering kali berarti “diam dan patuhlah.”

Awakening bukanlah pencerahan spiritual tapi momen ketika seseorang berhenti mempercayai narasi resmi dari pihak yang dianggap sebagai penindas. Evolution bukan sebuah kemajuan linear, tapi mutasi dari kesadaran yang sudah muak. Dan Insurrection tidak dimaksudkan untuk meromantisasi chaos, tapi konsekuensi logis ketika semua jalur lain telah diblokir.

Kalimat “allow us to educate you on the concept of dukkha” tidak mengandung niat untuk mendidik. Ia mengejek. Semua orang sudah tahu apa itu penderitaan. Mereka hanya berpura-pura tidak tahu agar bisa tidur, bekerja, dan patuh keesokan harinya. Lagi pula Dukkha tidak membutuhkan guru, ia hanya membutuhkan saksi yang jujur. Dan kejujuran menyatakan satu hal: kekerasan akan terus kembali, entah dalam bentuk tongkat aparat atau batu dari tangan-tangan yang putus asa.

Esai ini bukan ajakan untuk memukul. Namun ajakan untuk berhenti berpura-pura. Jika dunia terasa semakin kasar, mungkin bukan karena manusia semakin jahat, tapi karena topeng kesopanan akhirnya retak. The Mad Monk adalah sebuah cermin dan kebanyakan orang membenci apa yang mereka lihat di sana.

Jika ada Zen di sini, ia tidak membawa ketenangan, tidak juga menjanjikan pelepasan. Ia hanya menyisakan kejernihan untuk melihat dunia apa adanya, tanpa harapan, tanpa tuntutan makna, dan tetap berjalan di dalamnya; bukan karena percaya, tapi karena belum mati.

BoomWruuughTwarhDing: Tentang Pemborosan, Kedekatan, dan Akhir yang Tidak Menyelamatkan

Manusia terlalu lama percaya bahwa hidup bergerak menuju sesuatu. Keyakinan itu sendiri adalah kebohongan paling mahal yang pernah diproduksi peradaban. Tidak ada tujuan akhir. Yang ada hanya akumulasi energi yang pada titik tertentu harus dibuang, dihancurkan, atau diluapkan tanpa alasan.

Georges Bataille memahami ini dengan kejelasan yang menjijikkan: kehidupan tidak diatur oleh kebutuhan, melainkan oleh kelebihan. Oleh sesuatu yang tidak berguna, tidak produktif, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Ketika kelebihan itu tidak menemukan saluran ritual, ia meledak sebagai bencana.

Dalam momen-momen tertentu, batas antara kehidupan dan kematian menipis karena keduanya saling menelan. Di sana, makna runtuh sebagai kelegaan. Tidak ada lagi kewajiban untuk memahami, membenarkan, atau berharap.

Yang sakral tidak pernah bersih. Ia selalu dekat dengan yang menjijikkan, yang erotik, yang berlebihan. Kesakralan adalah panas yang membakar jarak aman antara subjek dan kehancuran. Di titik itu, manusia kehilangan kedaulatannya justru ketika ia merasa paling sadar akan dirinya sendiri.

Kedekatan lahir dari pengakuan bersama akan kefanaan yang sama bukan dari cinta atau solidaritas. Dua keberadaan dapat duduk bersebelahan tanpa saling menyelamatkan, tanpa saling menjanjikan masa depan, dan justru di sanalah keintiman mencapai bentuknya yang paling jujur.

Nihilisme bukan penolakan makna yang dingin, melainkan mabuk oleh absennya makna. Dunia tidak gagal. Dunia bekerja sebagaimana mestinya: menghabiskan dirinya sendiri.

Tidak ada satu pelajaran pun yang bisa dipetik dari kehancuran. Tidak ada moral yang muncul dari pemborosan. Hanya ada pengalaman singkat di mana manusia berhenti berpura-pura bahwa hidup ini efisien, masuk akal, atau adil.

Jika pada titik ini sesuatu terasa sakral, itu karena ia membuka mata, sesaat saja, pada kebenaran yang biasanya ditutupi oleh rutinitas: bahwa keberadaan tidak membutuhkan alasan untuk berakhir.

Dan dalam ketiadaan alasan itulah, kehidupan memperlihatkan wajahnya yang paling jujur.

Perjamuan Sang Unik di Atas Bangkai Hantu.

the entire argument of egoism is the end of meditation.

Meditasi adalah bentuk penghambaan yang paling halus. Ia memaksamu berlutut di depan altar pikiran, mencari sesuatu yang “lebih tinggi”, “lebih suci”, atau “lebih benar” dari dirimu yang nyata. Adalah kebohongan, bisikan yang merayap dari sudut-sudut katedral dan mimbar-mimbar agung, bahwa kita butuh cermin. Kau tidak butuh cermin. Yang kau butuhkan adalah kehancuran cermin-cermin itu, serpihan-serpihan yang memantulkan bukan dirimu, melainkan hantu-hantu yang mengklaim otoritas atas tubuhmu.

Bagiku, meditasi—penjara yang indah itu—telah mati. Ia berhenti di titik di mana aku menyadari bahwa aku tidak perlu mencari apa pun. Aku adalah segalanya bagi diriku sendiri. Seluruh argumen egoisme adalah titik di mana pencarian itu berhenti. Tak ada lagi puja-puji terhadap abstraksi yang mencuri napasmu. Tak ada lagi ruang untuk merenung di bawah bayang-bayang idealisme kemanusiaan, cinta kasih universal, atau hukum Tuhan.

Dunia ingin kau percaya bahwa orang lain adalah batas bagi kebebasanmu, cermin bagi jiwamu, atau mercusuar yang menerangi jalanmu. Omong kosong. Bagiku, kau bukanlah subjek yang harus kuhormati, bukan pula entitas yang harus kucintai demi kewajiban moral. Kau adalah materi. Kau adalah santapan bagi keunikanku; kabut yang harus kutembus, atau lebih baik, kuserap ke dalam paru-paruku sendiri. Betapa naifnya, gagasan tentang mencari “diri” yang ditemukan dalam diri orang lain atau dalam persetujuan mereka, dalam batas-batas yang mereka ukir. Mereka, dengan segala pretensi kesadaran dan kehendak mereka, hanyalah properti yang menunggu untuk diklaim, diserap, atau diabaikan, sejalan dengan kehendakku.

Egoisme bukanlah sebuah etika baru, melainkan makam bagi semua etika. Ini adalah seruan untuk memutus rantai setiap ide, setiap “Yang Sakral” yang berdiri di antara dirimu dan keunikanmu yang brutal. Kita tidak berdiskusi, kita mengambil. Kita tidak berempati, kita merasakan resonansi kekuasaan kita sendiri.

Ketika argumen egoisme dimulai, seluruh meditasi tentang kemanusiaan, cinta kasih universal, dan hukum Tuhan harus berakhir. Tak ada lagi ruang untuk merenung di bawah bayang-bayang idealisme. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang kreatif, di mana aku berdiri sebagai pusat, dan segala sesuatu yang berada di luar diriku hanyalah alat untuk merayakan eksistensiku. Setiap “yang lain” hanyalah alat, sebuah ekstensi, atau fatamorgana yang akhirnya akan lenyap di bawah tatapanku.

Maka, biarkan kegelapan yang pekat melingkupimu. Di sanalah, di antara bayangan-bayangan yang kau ciptakan dan kau hancurkan sendiri, kau akan menemukan dirimu yang sebenarnya, Yang Unik. Bukan yang diajarkan, bukan yang diharapkan, melainkan yang ada. Jangan mencari cahaya di luar sana. Bakar saja semua hantu yang bersarang dalam kepalamu, dan lihatlah bagaimana dunia menjadi terang benderang oleh kobaran api kehendakmu sendiri.

Bunga Liar

Di dalam tempurung kepalamu, dan di dalam labirin pikiranku, telah mekar seuntai kembang yang tidak butuh izin dari Tuhan maupun hukum manusia untuk tumbuh. Bunganya begitu harum, sebuah wewangian yang menghina bau busuk moralitas pasar dan kesantunan budak. Ia indah—bukan keindahan yang tenang seperti pajangan di ruang tamu, tapi keindahan yang ganas dan liar layaknya petir yang mencabik langit malam.

Mari kita jaga kembang ini. Namun, menjaga kembang ini bukan dengan memenjarakannya dalam pot-pot moderasi atau menyiramnya dengan air ketaatan yang tawar. Menjaganya berarti memberinya makan dengan api gairah kita. Kita harus menjaganya jangan sampai layu oleh debu-debu rutinitas yang membosankan, apalagi mati di bawah injakan kaki-kaki para pemadat keteraturan.

Jika dunia adalah gurun yang kering, maka pikiran kita adalah oase yang memberontak. Jangan biarkan kelopaknya mengering hanya karena kau takut pada matahari. Biarkan bunga itu mengisap darah dari setiap pengalaman yang paling intens, dari setiap pemberontakan yang paling berisiko, dan dari setiap ciuman yang paling terlarang.

Bagiku dan bagimu, bunga ini adalah kedaulatan. Ia adalah titik di mana “kelebihan” hidup kita meledak melampaui kebutuhan untuk sekadar bertahan hidup. Kembang ini harus tetap hidup, meski ia harus membakar seluruh taman demi mempertahankan keharumannya. Sebab, ketika bunga di pikiran kita layu, kita bukan lagi manusia yang berdaulat—kita hanyalah mayat yang berjalan menuju liang kubur tanpa pernah benar-benar mencicipi hidup yang meluap-luap.

Metafisika Luka: Yang Mekar dan Yang Terjerat

[Ryvalen Pedja, 2021]

Hidup yang kita kenal hanyalah pengumpulan—akumulasi harta, memori, dan waktu yang diatur oleh jam dinding yang dingin. Dunia ini adalah pabrik kegunaan yang membosankan, sebuah mesin yang hanya membolehkan kita ada sejauh kita berfungsi. Namun, jauh di dalam daging, ada gairah yang tak tertahankan untuk menghambur, untuk menghancurkan akumulasi itu, dan untuk menjadi “tak berguna” secara mutlak.

Maka, “semangat bundir” ini bukanlah keputusasaan; ia adalah ekstasi mengerikan. Titik di mana kita tidak lagi menjadi budak bagi masa depan dan mulai menjadi tuan bagi kehancuran kita sendiri. Ketika tali itu menegang atau jurang itu memanggil, jaring-jaring sosial yang selama ini memetakan setiap gerik kita akan robek seketika. Jaring-jaring—struktur, norma, dan bahasa—yang mencoba menjinakkan hasrat kita akan meledak menjadi partikel yang tak berarti. Inilah maut sebagai momen erotisme yang paling murni: penyatuan kembali dengan aliran energi tak terbatas, pelepasan dari isolasi diri yang kaku dan menyedihkan.

Menolak untuk bertahan hidup dalam sistem yang profan adalah bentuk kedaulatan yang paling brutal. Bakar semua hantu masa depan. Biarkan kegelapan ini menjadi cahaya yang paling terang, sebab hanya dalam penghancuran diri yang total, kita akhirnya tidak bisa lagi dipetakan oleh siapapun. Namun, sebelum ledakan itu paripurna, kita harus berani tetap berada dalam tegangan: antara mekar yang menyakitkan dan jeratan yang mencekik.

Jangan mencari kesembuhan, carilah intensitas. Kita harus membiarkan luka tetap terbuka, sebab di titik itulah kita benar-benar hidup sebagai makhluk yang menolak untuk sekadar bertahan hidup, dan memilih untuk meledak dalam keindahan yang terkutuk. Kita adalah anomali yang menolak difungsikan, sebuah perjamuan kedaulatan di mana maut dan ekstasi berpelukan dalam api yang kita nyalakan sendiri.