Arsitektur Kesendirian: Transendensi Subjek di Atas Puing Moralitas Kawanan

Tak ada bedanya apa yang akan dipikirkan orang lain tentangmu.
Maka, buatlah proyek spektakuler[1], seperti Nuh.

Keresahan manusia modern terhadap “apa yang dipikirkan orang lain” bukanlah sekadar kecemasan sosial biasa; ini adalah jejak purba dari moralitas kawanan (Herdenmoral) yang telah mendarah daging. Dalam kerangka Nietzschean, keinginan untuk diterima dan divalidasi oleh publik adalah gejala dekadensi yang paling banal—sebuah pelemahan vitalitas di mana individu mengizinkan dirinya menjadi objek bagi subjek kolektif yang medioker.

Ketika seseorang mendasarkan tindakannya pada ekspektasi publik, ia tidak hanya sedang melakukan pengkhianatan terhadap Will to Power (Kehendak untuk Berkuasa), tetapi juga meniadakan kemungkinan Will to Power itu muncul. Namun di titik ini, perlu kehati-hatian: sebab, Will to Power itu sendiri dapat berubah menjadi berhala baru jika diperlakukan sebagai legitimasi otomatis bagi setiap dorongan batin. Tidak semua yang lahir dari “insting” adalah afirmasi kehidupan; sebagian hanyalah reaksi yang belum menemukan lawannya. Mengkultuskan kehendak personal tanpa mengujinya pada resistensi dunia berisiko mengganti moralitas kawanan dengan mitologi individual yang sama tertutupnya.

Premis “Tak ada bedanya apa yang dipikirkan orang lain…” bukanlah nasihat pengembangan diri, melainkan sebuah proklamasi Kematian Penonton. Tidak ada penonton yang layak dipertimbangkan, karena tidak ada satu pun dari mereka yang akan menanggung konsekuensi hidupmu.

Dalam penciptaan sesuatu yang benar-benar berbeda (spektakuler), sang kreator harus terlebih dahulu membunuh “Tuhan”, yang dalam konteks ini, berbentuk opini publik. Tetapi tindakan membunuh “Tuhan” tidak menjamin lahirnya kebenaran. Sebab dalam banyak kasus, yang tersisa hanyalah ruang kosong tempat kesalahan tumbuh tanpa koreksi. Sehingga tidak semua yang dicemooh publik sedang mendahului zamannya; sebagian hanya salah membaca medan, dan kesalahan itu tidak otomatis menjadi kebajikan hanya karena dilakukan sendirian.

Tanpa keberanian untuk menjadi “yang jahat” atau “yang gila” di mata massa, seseorang hanya akan mampu menghasilkan reproduksi dari apa yang sudah aman beredar, bukan kreasi. Dalam konteks ini, Nuh muncul sebagai metafora ekstrem bagi autarki estetika, suatu kondisi di mana kebenaran sebuah karya tidak lagi bergantung pada konsensus, melainkan pada ketetapan batin sang arsitek. Tindakan Nuh membangun bahtera di tengah gurun adalah sebuah tindakan yang secara fungsionalitas dianggap absurd oleh logika sezamannya. Namun, ketidakpedulian terhadap ejekan tetangganya bukanlah bentuk kenaifan, melainkan bentuk Kedaulatan. Ia telah melampaui “kebenaran pasar”. Melampaui kebutuhan untuk dimengerti.

Proyek spektakuler menuntut isolasi radikal dan periode di mana sang pencipta harus menjadi tuli—bukan terhadap kritik yang buruk saja, tetapi juga terhadap pujian yang prematur—agar bisa mendengar suara instingnya sendiri. Namun ketulian ini bukan keadaan permanen. Isolasi yang terlalu lama berisiko mengeras menjadi dogma privat. Insting yang tidak pernah diuji dapat kehilangan ketajamannya kemudian berubah menjadi gema dirinya sendiri. Di titik ini, kesendirian tidak lagi produktif—ia akan menjadi steril.

Kebebasan dari penilaian orang lain bukanlah sebuah sikap pasif, melainkan sebuah prasyarat teknis bagi lahirnya Magnum Opus. Jika Nuh mendengarkan kritik tentang “efisiensi lokasi” atau “estetika kapal”, bahtera itu tidak akan pernah sanggup menanggung beban badai yang akan datang.

Setiap proyek spektakuler pada hakikatnya adalah sebuah bahtera—sebuah struktur yang dibangun untuk bertahan melampaui keruntuhan zamannya. Sebuah upaya individual untuk tidak ikut tenggelam bersama kebiasaan umum. Nietzsche berbicara tentang Umwertung aller Werte atau penilaian kembali atas semua nilai, dan sebuah proyek spektakuler tidaklah melayani dunia yang sekarang; ia justru menubuatkan kehancuran tatanan lama.

Ketidakpedulian terhadap opini orang lain adalah pengakuan pahit bahwa dunia mereka sudah “tenggelam” dalam dekadensi pikiran mereka sendiri, jauh sebelum hujan pertama turun. Namun pengakuan ini tetap harus berani menanggung kemungkinan paling tidak nyaman: bahwa mungkin air bah tidak datang sesuai perkiraan, atau datang dengan arah yang tak terduga. Proyek spektakuler yang matang bukan hanya siap menertawakan dunia tapi juga siap menghadapi kemungkinan bahwa dunia akan menertawakannya dengan alasan yang sah.

Oleh karena itu, membangun proyek spektakuler merupakan tindakan politik yang radikal: sebuah penolakan untuk berpartisipasi dalam keruntuhan kolektif dan memilih untuk mengapung dalam kebenaran yang diciptakan sendiri.

Pada akhirnya, proyek spektakuler adalah ujian ketahanan psikologis seseorang terhadap kesepian yang mendalam. Hanya mereka yang mampu menanggung beban “menjadi asing” yang berhak atas masa depan. Kita tidak membangun untuk mendapatkan tepuk tangan, karena tepuk tangan adalah mata uang dari mereka yang kita tinggalkan di daratan yang akan tenggelam.

Maka, palulah kayu-kayumu. Biarkan setiap paku yang kau tancapkan menjadi paku mati bagi pengaruh opini publik terhadap jiwamu. Jadilah Nuh bagi dirimu sendiri: seorang arsitek yang kedinginan dan ditertawakan, namun memegang kunci bagi apa yang akan tetap tegak ketika semua yang lumrah musnah ditelan air bah sejarah.


[1] Proyek spektakuler adalah apa pun yang saat ini kita takuti untuk mulai karena kita terlalu sibuk membayangkan wajah sinis orang lain.

Menyanyikan Kehidupan di Antara Bayang-bayang: Refleksi Pesta Kosong

“Kalah dalam lumpur atau menang di bawah sinar matahari, aku menyanyikan kehidupan dan aku menyukainya!”

Di tengah pesta kosong dan dalam ambang gelap serta angin yang menghembuskan pesan-pesan getir yang tersembunyi di dalamnya, aku menemukan diri berputar menjelajahi labirin emosi dan pikiran, menyatu dengan bayang-bayang yang menari, diiringi lagu kehidupan yang mengalun dengan nada-nada kegembiraan dan kesedihan, merayakan setiap jengkal perjalanan yang telah kutempuh, dengan segala kemenangan dan kekalahan yang membentuk jalan hidupku.

Meski langkah-langkahku seringkali dipenuhi dengan keraguan, namun aku menemukan kekuatan dalam ketidakpastian tersebut. Aku menolak untuk tunduk pada ketakutan dan pesimisme yang merayap di sekelilingku. Sebaliknya, aku memilih untuk menghadapi hidup dengan semangat yang membara, sekalipun itu berarti menghadapi kehampaan yang tak terelakkan.

Aku memahami bahwa hidup penuh dengan penderitaan dan kekecewaan, namun aku juga menyadari bahwa akan selalu ada keindahan yang bersemi dalam kemenangan-kemenangan kecil di tengah badai. maka, setiap lilin yang kuhembuskan adalah pesta kecil bagi serpihan harapan yang telah hancur dan setiap kekalahan adalah simfoni pembuka bagi setiap kemenangan baru.

Dalam segala kelebihan dan kekurangan, dengan harapan bahwa keberanian dan semangat akan terus menyertaiku dalam perjalanan yang tak terduga ini; Aku bergumam di bingkai dua puluh lima, tak banyak yang aku inginkan dalam hidup, yang aku ingin hanyalah ketenangan dan ketetapan hati untuk senantiasa bisa melakukan sesuatu yang kuyakini, kusayangi, dan aku anggap benar.

Teruslah hidup lebih lama lagi dan ketika tiba waktunya mati, biarkan aku menjadi debu yang terbawa angin, yang melayang bebas di antara bintang-bintang.

Anatomi Luka: 23;23:20;3:32:52;02:52

Hanya ada sepasang mata yang telah mati, sebuah lubang tanpa dasar yang kau sebut tatapan. Dan senyum itu? Itu hanyalah luka yang terbuka di wajahmu— sebuah hampa yang tidak meminta untuk diisi. Tanpa rasa. Tanpa makna. Hanya daging yang dingin melawan udara yang busuk.

Ke mana kau akan menyeretku? Ke sebuah tanah yang diberkati, atau ke dasar jurang di mana tulang-belulang kita akan saling berpesta? Bagiku, keduanya sama saja. Kepastian adalah tuhan yang sudah lama mati di selokan kota ini sebelum sempat memberikan pemberkatan.

Kau mungkin terheran-heran melihatku tetap menetap, bahkan saat kau membuangku seperti sampah ke arah kegelapan. Kau akan bertanya dengan nalar yang picik: “Apa alasannya? Mengapa kau membiarkan dirimu hancur berkali-kali?”

Barangkali kau lupa, atau mungkin kau terlalu suci untuk mengerti: Aku mencintaimu sebagai sebuah ekses. Sebagai sebuah pemborosan. Cinta bukan tentang memilikimu, tapi tentang bagaimana aku merayakan kehancuranku di tanganmu. Itu saja. Sebuah pengorbanan tanpa altar.

Dan sekarang, setelah semua darah dan kabut ini bercampur, apakah wajahmu semakin jelas? Atau apakah kau sudah benar-benar lenyap, meninggalkanku sendirian dalam kegairahan yang semakin buram dan mematikan?

 

 

Jejak-Jejak Bara

Kerinduan abadi akan kehilangan harapan, kehilangan cinta, serta hilangnya kehidupan.
Tidak pernah berhenti mencari sesuatu yang meringankan rasa sakit padahal sebenarnya rasa sakit itulah obatnya.
Kita yang berada di permukaan bumi ini dikutuk oleh para Dewa yang cemburu karena hanya kita yang dapat merasakan,
di dalam kefanaan kita, kita adalah pemenang, dan harga yang kita bayar adalah yang tertinggi.

Tak ada satu pun hal yang bertahan selamanya,
Cahaya yang sampai saat ini menghidupkan, pada akhirnya akan sirna;
Terang bulan berubah gelap, matahari meraksasa menemui ajalnya.
Bintang-bintang redup lalu meledak menjadi supernova,
Bumi bergerak memparipurnakan sebuah proses penghancuran spektakuler yang membinasakan segala bentuk kehidupan melalui kematiannya.

Sebelum semesta menjadi gelap, dingin, mati, dan langit mulai kehilangan biru; Tak ada salahnya untuk terus melangkah mengupayakan hidup
Lenyapkan segala mitos masa depan yang menakutimu
Jangan berhenti dan jangan pedulikan apa yang sudah berlalu.

Bahwa besok segala bentuk kehidupan akan binasa dan langit menjadi gelap pekat, bukan berarti harus kehilangan alasan untuk tetap hidup dan daya untuk merengkuh dunia.
Apa yang harus dikhawatirkan ketika kita tahu bahwa tak ada satu pun hal yang bertahan selamanya?
Lagipula, bukankah kehancuran dan kematian itu, seperti orgasme, adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup?

 

Tentang Pengalaman yang Tidak Dapat Disimpan

Setiap kehidupan dimulai secara sewenang-wenang. Waktu, tempat, dan kondisi kelahiran tidak membawa pesan apa pun selain fakta bahwa tubuh dilemparkan ke dunia tanpa konsultasi. Penghujung dekade sembilan puluhan, sebuah februari yang tidak istimewa kecuali karena aku lahir di dalamnya, hanyalah penanda kronologis, bukan pondasi identitas. Dari titik ini, kehidupan tidak bergerak menuju makna, melainkan melaju menuju pengulangan pengalaman.
Aku lebih akrab dengan keinginan untuk menjauh dari kebisingan dunia, upaya ini seringkali disalahpahami sebagai sikap melankolis atau eskapisme. Padahal, ia dapat dibaca sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap realitas yang terlalu cepat mengklaim dirinya penting. Dunia modern penuh dengan tuntutan partisipasi: untuk unggul, produktif, dan terlibat. Namun tidak satu pun dari tuntutan itu mampu menjelaskan mengapa keterlibatan tersebut perlu dipertahankan selain karena “begitulah seharusnya”.
Dalam sistem pendidikan, misalnya, hierarki prestasi dibangun sebagai mekanisme nilai. Menjadi yang terbaik diposisikan sebagai puncak makna, sementara keterbelakangan dianggap kegagalan. Namun pengalaman menunjukkan bahwa baik kemenangan maupun kejatuhan tidak menghasilkan perbedaan eksistensial yang signifikan. Menjadi yang terpandai tidak mengubah struktur hidup; menjadi yang tertinggal tidak menghancurkannya. Keduanya habis pada dirinya sendiri. Dari sini tampak bahwa nilai-nilai tersebut tidak bersifat ontologis, melainkan administratif; berfungsi untuk mengatur, bukan untuk memberi arti.
Hal yang sama terjadi dalam dunia kerja. Kesibukan ekstrem dan kekosongan total silih berganti tanpa menghasilkan pencerahan apa pun. Produktivitas yang dipuja ternyata sama hampa dengan waktu luang yang berlebihan. Dalam kesibukan, tubuh diperas hingga nyaris kehilangan refleksi; dalam kekosongan, subjek dihadapkan pada ketiadaan fungsi yang membuatnya tampak usang. Namun baik sibuk maupun santai tidak membawa jawaban. Keduanya hanya dua cara berbeda untuk menghabiskan waktu sebelum kematian datang.
Relasi sosial pun tidak luput dari kehampaan serupa. Dicintai, dibenci, disukai banyak orang—semua posisi itu bersifat sementara dan cepat melelahkan. Yang menarik bukan konflik, melainkan justru kebaikan yang berlebihan. Ketika segalanya berjalan terlalu lancar, tidak ada ketegangan yang menuntut keputusan. Dunia menjadi abu-abu: tidak cukup keras untuk ditolak, tidak cukup berarti untuk dipertahankan. Kebosanan lahir bukan dari kekurangan, tetapi dari limpahan yang tidak mengharuskan apa pun.
Dari seluruh spektrum pengalaman—gairah, kejenuhan, kemenangan, kelalaian—tidak muncul narasi besar yang koheren. Hidup tidak bergerak menuju klimaks. Ia hanya berosilasi antara intensitas yang cepat memudar dan kebosanan yang stabil. Dalam konteks ini, pertanyaan tentang makna hidup kehilangan daya desaknya. Yang relevan bukan lagi apa artinya, melainkan seberapa banyak yang dialami.
Kematian, sebagai kepastian biologis, membatalkan hampir semua klaim nilai. Baik atau buruk, berhasil atau gagal, produktif atau malas—semua berhenti pada titik yang sama. Karena itu, pencarian makna abadi tampak sebagai upaya menunda penerimaan atas fakta paling sederhana: tidak ada hasil akhir yang bisa disimpan.
Pada titik ini, Yang tersisa hanyalah intensitas. Sebuah bentuk perlawanan paling minimal terhadap kehidupan yang cenderung datar. Mengalami sebanyak mungkin—bahkan yang tidak nyaman, tidak berguna, dan tidak bisa dibenarkan—sebelum semuanya berakhir menjadi satu-satunya cara untuk tidak sepenuhnya hidup dalam penghematan eksistensial.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Jika hidup harus berakhir, maka ia tidak perlu berakhir dengan makna. Cukuplah ia berakhir setelah dikuras habis. Kematian tidak menuntut pembenaran; ia hanya menutup kemungkinan. Dan di hadapan penutupan itu, satu-satunya posisi yang tersisa adalah memastikan bahwa tubuh dan kesadaran pernah disentuh oleh cukup banyak rasa, sehingga akhir tidak datang pada sesuatu yang belum benar-benar dijalani.

Matilah Sebelum Engkau Mati

Setiap penderitaan adalah sehelai kematian, jauhkan kematian darimu: jika kamu mampu!
Karena tak ada satu orang pun yang mampu lari dari bagian kematian, ketahuilah bahwa ia begitu dekat sehingga keseluruhannya akan ditumpahkan dan menghajarmu tepat satu jengkal di atas kepala.

Derita takkan hilang selama kamu belum mati tapi bukan berarti kematian adalah akhir dari segalanya, naif jika menganggapnya seperti itu. kematian tak statis, ia terus bergerak untuk melenyapkan segala sesuatu sampai tak ada lagi yang tersisa.

Pilihlah kematian yang membawamu ke dalam suatu cahaya, bukan membawamu ke dalam kubur.

Happy ̶B̶i̶r̶t̶h̶ Obituary Day

It’s not my birthday anymore
There’s no need to be kind to me
And the will to see you smile and belong has now gone
It’s not my birthday anymore…

Pengulangan tahun bagiku tidak terlalu penting untuk digembar-gemborkan, lagi pula, itu hanya pengingat atas bertambahnya umur dan berkurangya waktuku untuk berada di dunia ini. Dan, cukup aku saja yang merayakan itu.

Tahun ini aku merayakan pengulangan tahun dengan membuka diri dan mempersilahkan setiap penderitaan datang membuka halaman baru dalam rumitnya kehidupan lalu membiarkan diri ini tumbuh di dalam indahnya kehancuran. Di sini, aku adalah arsitek bagi kehidupanku paska kehancuran. Karena bagiku, aku sendirilah yang akan membuat jalan dan membangun bentuk dari setiap jejak yang akan menjadi tanda di atas dunia dan memberi makna pada kehidupan.

21 tahun berlalu, Kabar demi kabar yang dibawakan juga ingatan bahwa dunia akan selalu muram merupakan hal-hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupanku. Selayaknya doa dihadapan pengulangan tahun, aku berharap bahwa teruslah hidup lebih lama lagi seperti api yang tetap menyala meski redup setengah mati. وَا لْعَصْرِ

 


Lagu yang menemaniku saat menulis ini:

  • Tiga Pagi – Happy Birthday
  • Morrissey – It’s Not Your Birthday Anymore
  • Morrissey – A sleep
  • Pearl Jam – Black
  • Pearl Jam – All or None
  • Saturnus – All Alone
  • Anathema – Untouchable (Part I, II)

Menuju Badai

Do you know our earth is a mess, All the wars for nothing
– Boogie, Wars for nothing

 

Setiap dari kita akan selalu menemukan penderitaan dalam hidup —seperti kematian, penderitaan adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup– dan pengharapanlah yang mendekatkan kita pada penderitaan. maka, di dunia yang penuh dengan problematika ini, usaha yang bisa kita lakukan ialah tidak berharap pada siapapun kecuali pada diri sendiri.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Tidak ada cetak biru untuk masa depan, aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidupku esok, lusa, dan seterusnya, yang perlu aku lakukan adalah menjalani dan menikmati hidup sepenuhnya dengan tanggung jawab penuh atas setiap jalan yang aku pilih tanpa harus menyesalinya karena setiap jalan yang telah dan akan aku tempuh hanya akan menjadi sebuah tanda bagi dunia bahwa aku pernah menari diatasnya.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Meski terkadang aku merindukan dan ingin mengulang masa-masa indah dalam hidup yang telah aku lalui, tapi alih-alih larut dalam peristiwa masa lalu, aku justru menjadikannya sebagai pembelajaran sekaligus sebagai pegingat bahwa akan selalu ada sisi keindahan dari hidup yang bisa aku rebut dan pertahankan. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Bagiku, hidup itu sendiri adalah peperangan, sebuah perang yang tak akan pernah bisa dimenangkan secara penuh sebab pada akhirnya akan tiba waktu dimana ketika semua peperangan berakhir dan kekalahankematian datang meruntuhkan semua hal yang telah kita rebut dan perjuangkan. Meski begitu, kita seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan kekalahan itu, karena kematian tidak pernah menakut-nakuti ataupun meneror kita. hadapi saja apapun yang menghantammu, tak usah menjadi pengecut kemudian menyerah karena mengetahui semuanya akan sia-sia.