Titik Henti

she’s very cute, beautiful, and adorable. that’s why i love her.

Aku menulis ini di ambang tahun —meski mungkin kau tak akan pernah membacanya—untuk menguras sisa-sisa dirimu dari kepalaku. Ada sedikit rasa kesal mengapa aku terus mengingat kisah kita yang telah usang dan terbuang. Dengan menulis ini, aku mengambil kembali kedaulatanku. Aku melepaskanmu, meski aku tahu kau telah lebih dulu mengubur semuanya.

Bertahun-tahun telah terlewat sejak kata terakhir kita menguap. Aku mencoba memahami badai yang berkecamuk. Aku tak pernah menyalahkanmu begitu kau hilang dan tak lagi kuketahui. Sejauh yang kuingat, kau adalah fragmen masa lalu, sebuah kepingan penting yang membentuk diriku hingga hari ini.

Kita berdua mungkin melakukan kesalahan, saling menyakiti serupa menyangkal peluang untuk berbaikan di esok hari, seolah enggan mengupayakan agar tetap bersama. Aku merelakanmu, aku tidak akan menyebut diriku gagal melengkapimu; kita hanya berhenti menjadi berguna bagi satu sama lain. Kita memilih untuk berhenti mengupayakan “kita”.

Namun, satu hal yang perlu kamu ketahui: perasaanku masih mengendap seperti jejak hujan di tanah yang tak kunjung kering. Ia tetap menguar, seperti aroma petrichor yang selalu kau sukai. Aku membiarkan perasaan itu ada bukan sebagai kerinduan, melainkan sebagai sisa pembakaran dari luka yang kita rayakan dulu.

Maka pergilah. Biarkan aku hancur dalam hening yang membebaskan; aku mengorbankan ingatanmu di altar kesunyianku, agar aku bisa lahir kembali dari abu kehancuran yang kita ciptakan bersama.