Seperti semua tulisanku yang lain, aku di sini hanya akan berbicara untuk diri sendiri. dengan cara penulisanku yang jauh dari kata baik dan melompat-lompat, mungkin akan memberikan kebingungan ketika kalian membacanya. tapi masa bodoh, toh, aku menulis bukan untuk dimengerti.
Dahulu, aku pernah meyakini sebuah absurditas: bahwa orang-orang yang tidak kutemui secara langsung adalah fiksi. Mereka tidak benar-benar ada. Jika pun mereka eksis di suatu tempat yang tak terjangkau radar mataku, mereka pastilah sejenis alien. Bagiku saat itu, semesta hanya seluas jangkauan langkah kaki. Memang terdengar naif dan aneh sekaligus tapi seperti kebanyakan anak-anak lainnya, aku pun tidak pernah benar-benar memahami dengan apa yang aku pikirkan saat itu dan kenapa pemikiran itu muncul.
kembalinya ingatan masa kecil yang tersimpan di dalam lemari ingatan alam bawah sadar itu mengingatkanku dengan langkah yang aku ambil ketika aku menetapkan batas dalam bersosial. Penetapan batas bukan didasar oleh rasa benci, melainkan karena aku adalah pemilik tunggal atas perhatianku. Mereka yang berada di luar jangkauan intimku adalah fiksi; mereka adalah abstraksi yang tidak memiliki klaim atas hidupku. Aku menyebut mereka “orang-orang imajiner”.
itu artinya, tidak terlalu banyak hingar bingar, meskipun hal ini akan membuat lingkaranku mengecil tapi aku tetap senang karena menurutku, ini satu langkah lebih jauh ke arah ketenangan. ada kesendirianku yang mempesona, otonomiku sejauh yang aku bisa menyesuaikannya; ada beberapa hubungan antar individu yang lebih intim.
aku cenderung pemalu dan tak mudah berkomunikasi dengan orang lain yang belum begitu kukenal kecuali jika ada alasan yang sangat bagus; aku akan berusaha untuk memunculkan dorongan untuk berbincang, tak peduli tentang apa pun itu. tak peduli seberapa melelahkannya itu. Aku mengonsumsi interaksi itu sejauh ia berguna bagiku.
Duniaku adalah milikku, dan aku hanya mengakui apa yang benar-benar ada di hadapanku.